Rabu, 13 Maret 2013

Reproduksi Bacaan



TUGAS PORTOFOLIO
REPRODUKSI BACAAN THE MANCHUNIAN WAY
KARYA BUDI WALUYO


Buku ini memuat kisah nyata yang dialami oleh seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar di University of Manchester, Inggris. Dia adalah Budi Waluyo, lahir di Bengkulu pada 4 juli 1987. Sebelumnya dia meraih gelar sarjana S1 di Un iversitas Bengkulu. Dia bukanlah anak orang kaya, bukan pula pemilik otak yang brilian, namun dia dapat membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri. Hingga dia menempuh studi master di University of Manchester, Inggris di bidang Educational Technology and TESOL. Studi masternya ini dibiayai oleh beasiswa Internasional Fellowships Program dari Ford Foundation, USA. Dia tercatat sebagai pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia di Greater Manchester dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom. Di University of Manchester dia merupakan perwakilan mahasiswa dari jurusan MA Educational Technology and TESOL.
Budi adalah anak tertua dalam keluarganya. Dua adiknya masih kecil-kecil. Anehnya, ibu Budi selalu mengutamakan Budi daripada adik-adiknya, entah terkait dengan uang jajan, makanan, maupun biaya pendidikan. Ibunya ikhlas banting tulang untuk sekolah Budi, karena menurut ibunya hanya dengan sekolah yang tinggi, dia bisa mengubah nasib keluarganya dan orang lain. Sembari kuliah S1, Budi mulai membuat rencana mengasah kemampuan dalam menulis dan organisasi, serta mengukir prestasi. Hal itu dia lakukan semata-mata agar bisa mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri. Setelah lulus S1, Budi akhirnya mendapatkan beasiswa International Fellowships Program dari Ford Foundation, USA, sebuah yayasan yang diprakarsai oleh Ford Company, New York. Budi mencoba menimba ilmu di University of Manchester, sebuah universitas terbesar di Inggris. Walaupun dulu banyak yang meragukan Budi,tetapi Budi bisa membuktikan bahwa dia mampu menggapai cita-citanya.
Setiap harinya Budi harus mengayuh sepeda ke kampus. Sebenarnya, cuaca di Manchester sangat mendukung untuk jalan kaki atau bersepeda. Tetapi, hal ini hanya dapat dilakukan saat cuaca cerah dan hanya ada mungkin dua hari dalam seminggu. Manchunian (penduduk asli Manchester) pernah berkata kepada Budi bahwa hujan tidak setiap hari, tetapi hujan seperti turun setiap hari.
Seperti halnya dengan Indonesia, pengendara sepeda di Manchester harus jalan berdampingan dengan para pengendara mobil. Bedanya dengan di Jakarta, pengendara mobil di Manchester lebih tertib dan tidak akan berteriak bila seorang cyclist (Pesepeda) ke tengah jalan, mereka akan menunggu sampai ia menyadarinya. Para cyclist di Manchester wajib memakai helm dan baju yang di sikunya ada kain tebal pelindung. Sedangkan untuk keamanan sepeda, mereka harus menyiapkan kunci lebih dari satu.
Mata kuliah yang diberikan di University of Manchester pada program S2 tidaklah banyak. Meskipun demikian, para mahasiswa di universitas tersebut dituntut untuk mandiri dan memiliki konsentrasi yang tinggi. Sistem pendidikan di Inggris memang sangat simple, namun menuntut kedisiplinan dan kemandirian dari mahasiswanya. Kampus-kampus di Inggris dirawat dengan baik serta ditata dengan suasana yang membuat para mahasiswanya yang memiliki inspirasi yang kuat untuk belajar. Tidak hanya dari segi bahasa, tantangan kuliah di luar negeri lainnya muncul dari adaptasi terhadap gaya belajar, yakni dituntut untuk belajar mandiri, banyak membaca, dan menemukan ide-ide baru.
Budi selalu berkeinginan untuk dapat cepat pulang ke Indonesia, karena dia berharap selepas belajar di Manchester, dia dapat menerapkan semua ilmu yang telah didapat untuk kemajuan bangsa Indonesia. Budi yakin, orang-orang Indonesia yang sedang tinggal di luar negeri juga merasa rindu dengan tanah air, bangga, sekaligus malu ketika melihat tingkah laku para pemimpin yang masih saja mempermainkan bangsanya sendiri.
Selain kuliah, Budi juga bekerja paruh waktu di sebuah Bar sebagai glass collector. Dia membunuh 9 jam dengan memungut gelas-gelas di Bar itu. Tapi dia mulai bimbang antara melanjutkan pekerjaannya atau tidak, gelas-gelas dan botol-botol yang dia pungut itu berisi minuman beralkohol. Secara tidak langsung, dia menyentuh dan menghirupnya, ini sudah tidak benar dalam islam. Menurut Budi, uang dari beasiswa sudah lebih dari cukup. Selama di Manchester, Budi merasa jatuh cinta kepada seorang gadis yang bernama Aisah. Namun itu yang membuat hidup Budi menjadi lebih berwarna dan yakin bahwa Aisah cinta sejatinya.


Tidak ada komentar: