TUGAS PORTOFOLIO
REPRODUKSI BACAAN THE MANCHUNIAN
WAY
KARYA BUDI WALUYO
Buku ini memuat
kisah nyata yang dialami oleh seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang
belajar di University of Manchester, Inggris. Dia adalah Budi Waluyo, lahir di
Bengkulu pada 4 juli 1987. Sebelumnya dia meraih gelar sarjana S1 di Un
iversitas Bengkulu. Dia bukanlah anak orang kaya, bukan pula pemilik otak yang
brilian, namun dia dapat membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing untuk
mendapatkan beasiswa di luar negeri. Hingga dia menempuh studi master di
University of Manchester, Inggris di bidang Educational
Technology and TESOL. Studi masternya ini dibiayai oleh beasiswa Internasional Fellowships Program dari
Ford Foundation, USA. Dia tercatat sebagai pengurus Perhimpunan Pelajar
Indonesia di Greater Manchester dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di United
Kingdom. Di University of Manchester dia merupakan perwakilan mahasiswa dari
jurusan MA Educational Technology and
TESOL.
Budi adalah anak
tertua dalam keluarganya. Dua adiknya masih kecil-kecil. Anehnya, ibu Budi
selalu mengutamakan Budi daripada adik-adiknya, entah terkait dengan uang
jajan, makanan, maupun biaya pendidikan. Ibunya ikhlas banting tulang untuk
sekolah Budi, karena menurut ibunya hanya dengan sekolah yang tinggi, dia bisa
mengubah nasib keluarganya dan orang lain. Sembari kuliah S1, Budi mulai
membuat rencana mengasah kemampuan dalam menulis dan organisasi, serta mengukir
prestasi. Hal itu dia lakukan semata-mata agar bisa mendapatkan beasiswa S2 ke luar
negeri. Setelah lulus S1, Budi akhirnya mendapatkan beasiswa International Fellowships Program dari
Ford Foundation, USA, sebuah yayasan yang diprakarsai oleh Ford Company, New
York. Budi mencoba menimba ilmu di University of Manchester, sebuah universitas
terbesar di Inggris. Walaupun dulu banyak yang meragukan Budi,tetapi Budi bisa
membuktikan bahwa dia mampu menggapai cita-citanya.
Setiap harinya
Budi harus mengayuh sepeda ke kampus. Sebenarnya, cuaca di Manchester sangat
mendukung untuk jalan kaki atau bersepeda. Tetapi, hal ini hanya dapat
dilakukan saat cuaca cerah dan hanya ada mungkin dua hari dalam seminggu.
Manchunian (penduduk asli Manchester) pernah berkata kepada Budi bahwa hujan
tidak setiap hari, tetapi hujan seperti turun setiap hari.
Seperti halnya
dengan Indonesia, pengendara sepeda di Manchester harus jalan berdampingan
dengan para pengendara mobil. Bedanya dengan di Jakarta, pengendara mobil di
Manchester lebih tertib dan tidak akan berteriak bila seorang cyclist (Pesepeda) ke tengah jalan,
mereka akan menunggu sampai ia menyadarinya. Para cyclist di Manchester wajib memakai helm dan baju yang di sikunya
ada kain tebal pelindung. Sedangkan untuk keamanan sepeda, mereka harus
menyiapkan kunci lebih dari satu.
Mata kuliah yang
diberikan di University of Manchester pada program S2 tidaklah banyak. Meskipun
demikian, para mahasiswa di universitas tersebut dituntut untuk mandiri dan
memiliki konsentrasi yang tinggi. Sistem pendidikan di Inggris memang sangat
simple, namun menuntut kedisiplinan dan kemandirian dari mahasiswanya.
Kampus-kampus di Inggris dirawat dengan baik serta ditata dengan suasana yang
membuat para mahasiswanya yang memiliki inspirasi yang kuat untuk belajar. Tidak
hanya dari segi bahasa, tantangan kuliah di luar negeri lainnya muncul dari
adaptasi terhadap gaya belajar, yakni dituntut untuk belajar mandiri, banyak
membaca, dan menemukan ide-ide baru.
Budi selalu
berkeinginan untuk dapat cepat pulang ke Indonesia, karena dia berharap selepas
belajar di Manchester, dia dapat menerapkan semua ilmu yang telah didapat untuk
kemajuan bangsa Indonesia. Budi yakin, orang-orang Indonesia yang sedang
tinggal di luar negeri juga merasa rindu dengan tanah air, bangga, sekaligus
malu ketika melihat tingkah laku para pemimpin yang masih saja mempermainkan
bangsanya sendiri.
Selain kuliah,
Budi juga bekerja paruh waktu di sebuah Bar sebagai glass collector. Dia membunuh 9 jam dengan memungut gelas-gelas di
Bar itu. Tapi dia mulai bimbang antara melanjutkan pekerjaannya atau tidak, gelas-gelas
dan botol-botol yang dia pungut itu berisi minuman beralkohol. Secara tidak
langsung, dia menyentuh dan menghirupnya, ini sudah tidak benar dalam islam.
Menurut Budi, uang dari beasiswa sudah lebih dari cukup. Selama di Manchester,
Budi merasa jatuh cinta kepada seorang gadis yang bernama Aisah. Namun itu yang
membuat hidup Budi menjadi lebih berwarna dan yakin bahwa Aisah cinta
sejatinya.